usamah al ghifari

Sugeng Rawuh

Posted by: usamahalghifari on: 3 Maret 2010

Ahlan Wasahlan…

Selamat datang di website kami...

komentar atau saran sangat kami harapkan :

Hp. : 081390431xxx

E-Mail : usamah_alghifari@ymail.com

Kesalahan “Minal Aidin Wal Faizin”

Posted by: usamahalghifari on: 7 September 2010

Ucapkanlah Dengan Ilmu, mungkin itu yg ingin saya garis bawahi dalam penulisan notes kecil ini. ini juga bukan berarti ingin mengatakan saya berilmu, saya pun paham dari orang lain yg berilmu dan berbagai referensi yg dibaca., semoga kita semua jadi berilmu.

Dalam redaksi kali ini, saya ingin membahas kata MINAL AIDZIN WALFAIDZIN yg sudah lumrah kita dengar, Sebelum membahas Kata Minal Aidzin wal faidzin yang Lucu itu, mari kita perhatikan referensi terkait yg membahasa tentang Ucapan Ini:

“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied : Taqabbalallahu minnaa wa minkum “Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Majmu Al-Fatawa 24/253]

Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata : “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.
Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446]

Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : ‘Taqabbalallahu minnaa wa minka”
(Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259)

IMAM AHMAD menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Bagus. Beliau menambahkan :
“Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.”
[Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]

Nah, Sahabat. lalu kenapa Minal Aidzin Walfaidzin?

Dikalangan masyarakat dan media Televisi berjuta juta muslim di indonesia sering mendengar kata ini digandengkan dengan kata ‘Mohon maaf lahir batin’ sehingga kurang lebih Begini:

“MINALAIDIN WAL FAIDZIN – MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”,

Seakan akan (mungkin yang mengucapkan) menganggap bahwa Minal Aidzin Wal Faidzin Ini berarti Mohon Maaf Lahir dan Batin..Benarkah begitu? Coba perhatikan dan analisa sendiri jika dua frase itu diartikan secara menyeluruh dalam bahasa indonesia yg benar:

“TERMASUK DARI ORANG ORANG YANG KEMBALI SEBAGAI ORANG YANG MENANG – Mohon maaf lahir dan Batin”.

Sepertinya rada ngawur, do’a bukan (karena tidak lengkap).. dan salam juga bukan :) karena lucu saat kita artikan dari bahasa Aslinya. Adapun menurut hemat saya, ya sah sah aja selama itu Ikut ikutan dan tidak meniatkan bahwa Mohon maaf Lahir dan Batin itu arti dari Minal Aidzin Walfaidzin

Coba lihat penerjemahan makna frase Minal Aidzin Wal Faidzin dalam bahasa Arab berikut:

Min, artiinya “termasuk”.
Al-aidin, artinya”orang-orang yang kembali”
Wa, artinya “dan”
Al-faidzin, artinya “ menang”.

Jadi makna “Minal Aidzin Wal Faidzin” jika dipaksakan diartikan dalam kai’dah tatabahasa Arab – Indonesia yg benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.

Artinya mengambang bukan?

S O L U S I

Nah lalu apa Solusi dari kurangnya pemahaman bahasa diatas ?
Tentunya selain agar kita tidak ditertawain negeri tetangga, dan tidak malu maluin saat kita bertemu dengan orang orang berilmu, kita juga harus mengikuti Apa yg Rasul / Sahabat contohkan agar hal tersebut terhindar dari hal hal Bid’ah.

Nah lho? Kok bid’ah?

Jangan tersinggung dulu, untuk sahabat muslim yang alergi dengan kata BIDAH. mari perhatikan; dalam budaya Arab, ucapan yang disampaikan ketika menyambut hari Idul Fitri (yang mengikuti teladan nabi Muhammad Saw) adalah “Taqabbalallahu minna waminkum”, Kemudian menurut riwayat ucapan nabi ini ditambahkan oleh orang-orang dekat jaman Nabi dengan kata-kata”Shiyamana wa Shiyamakum”, yang artinya puasaku dan puasamu, sehingga kalimat lengkapnya menjadi “Taqabbalallahuminna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum” (Semoga Alloh menerima amalan puasa saya dan Kamu).

Dari Riwayat tersebut Dan seperti keterangan keterangan yg dipaparkan yang benar adalah dari “Taqabbalallahu… sampai … shiyamakum”. tidak satupun menyatakan ada istilah Minal Aizin wal Faidzin. Atau Tanpa minal Aidin wal faidzin.

Jadi mengucapkan Minalaidin walfaidzin, JIKA KITA mengucapkannya dengan niat ingin mencontoh kebiasaan Rosulullah/Ittiba’qauly, jatuhnya bisa menjadi Bid’ah, TAPI KALAU niatnya hanya untuk “Ingin mendoakan sesama Saudara seiman”, Insya Allah, tidak salah DAN Bahkan hal yang baik.

Adapun jika ingin menambahkan bisa saja ditambahkan diakhir kalimat, agar secara harfiyah aja serasi:

”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum minal aidin wal faidzin”
Artinya, “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Dan semoga Ia menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.”

Sekedar tambahan, bagaimana jika kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa arab benar?
Salah satunya adalah “Asalukal afwan zahiran wa bathinan”. Atau “wa al afwu minkum”. “ dan, sekali lagi Bukan Minal aidin wal faidzin”

Kaitkata:

Reuninan

Posted by: usamahalghifari on: 26 Juli 2010

He he....

Berkualitaskah Tidur Anda?

Posted by: usamahalghifari on: 22 Mei 2010

image

Setelah seharian beraktivitas, tidur merupakan salah satu cara ampuh untuk kembali mengumpulkan energi tubuh. Namun bukan berarti bangun dari tidur yang lama akan begitu saja membuat badan Anda terasa segar.

Terkadang badan justru terasa lemas. Bila gejala ini yang Anda rasakan, berarti ada yang kurang beres dengan tidur Anda dengan kata lain tidur Anda kurang berkualitas.

Tidurlah ketika Anda telah mengantuk, sehingga Anda akan mudah terlelap. Jangan berolahraga sebelum tidur, sebab otot-otot tubuh dan jantung bekerja lebih cepat sehingga membuat Anda akan sulit mengantuk.

Hindari pula melakukan aktifitas serius yang memacu otak untuk berpikir keras, seperti membaca buku atau menonton televisi. Tayangan TV dapat mengganggu kelenjar pineal di otak yang dapat menyebabkan sulit tidur. Demikian pula jika ingin membaca buku, bacalah buku dengan konten yang “ringan”.

Jangan mengkonsumsi kopi atau teh sebelum tidur. Keduanya mengandung kafein yang bisa merangsang peredaran darah dan memiliki efek stimulasi yang tahan lama pada sistem saraf sehingga akan menghambat tidur lelap Anda. Hindari pula konsumsi alkohol karena dapat membuat Anda sering terbangun dan sulit tidur kembali.

Tidurlah dengan ruangan dalam kondisi gelap. Sebab cahaya yang mengenai mata Anda dapat mengganggu irama sirkadian dari kelenjar pineal juga produksi melatonin dan serotonin. Kualitas tidur Anda dapat tetap terjaga dengan mematikan lampu kamar. Jika tak nyaman dengan kegelapan, Anda dapat menggunakan lampu yang redup atau penutup mata.

Semoga beberapa tips ini dapat berguna untuk memperbaiki kualitas tidur yang bermanfaat bagi kesehatan Anda.

(berbagai sumber/CN16)

ukhti

Posted by: usamahalghifari on: 10 Maret 2010

entah apa yang harus ku tulis, lewat blog ini aq ingin mengatakan sungguh diri ini termt menyangimu….

Untukmu Saudariku

Posted by: usamahalghifari on: 3 Maret 2010

Saudariku Bagaimanakah Engkau bergaul ?

Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?

Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.

Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.

Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya  dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.

Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.

Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hati para pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.

Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”

Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.

Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.

Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”

Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.

Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.

Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.

Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.

Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.

Kunci Sukses

Posted by: usamahalghifari on: 3 Maret 2010

A Dream

I have a dream, a song to sing
To help me cope, with anything
If you see the wonder, of a fairytale
You can take the future, even if you fail
I believe in angels, something good in everything I see
I believe in angels, when I know the time is right for me
I’ll cross the stream, I have a dream
(Oh yeah )   I have a dream, a fantasy
To help me through, reality
And my destitation, makes it worth the while
Pushing through the darkness, still another mile
I believe in angels, something good in everything I see
I believe in angels, when I know the time is right for me
I’ll cross the stream, I have a dream
I have a dream, a song to sing
To help me cope, with anything
If you see the wonder, of a fairytale
You can take the future, even if you fail
I believe in angels, something good in everything I see
I believe in angels, when I know the time is right for me
I’ll cross the stream, I have a dream
I’ll cross the stream I have a dream.

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

My Picture

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.